Hubungan antara kredensial akademik dan persepsi publik mengenai kapasitas intelektual individu adalah topik yang kompleks dan sering diperdebatkan. Sementara beberapa penelitian menunjukkan bahwa pencapaian pendidikan yang lebih tinggi terkait dengan kemahiran dan kinerja pekerjaan yang lebih besar (Gottfredson, 1997), konstruksi budaya "intelektualitas" dan "akademisisme" sering kali mendukung perilaku dan perspektif kelas menengah (Hurst, 2013; Sewell, 1971).
Mendapatkan gelar sarjana, terutama di tingkat pascasarjana, secara luas dipandang memberikan status sosial, potensi pendapatan, dan prestise yang lebih tinggi (Sewell, 1971). Persepsi ini telah membuat beberapa orang berpendapat bahwa individu mungkin mengejar gelar lanjutan bukan karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh secara langsung relevan dengan jalur karier yang diinginkan, tetapi sebagai cara untuk meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja. Namun, perspektif ini dikritik karena menyederhanakan motivasi dan pengalaman siswa dari berbagai latar belakang sosial ekonomi, yang mungkin melihat pendidikan tinggi sebagai sarana mobilitas sosial daripada sekadar simbol status (Hurst, 2013).
Selain itu, meningkatnya kredensialisasi banyak pekerjaan, termasuk yang secara historis dianggap "subprofesional" atau "teknis, " telah berkontribusi pada persepsi bahwa gelar lanjutan adalah prasyarat yang diperlukan untuk memasuki berbagai jalur karier yang semakin luas (Sewell, 1971). Fenomena ini dapat memperkuat anggapan bahwa gelar akademik adalah indikator yang andal dari kemampuan intelektual individu, meskipun faktor-faktor kompleks mempengaruhi pencapaian pendidikan dan trajektori karier.
Pada akhirnya, hubungan antara kredensial akademik dan persepsi publik tentang intelektualitas dibentuk oleh berbagai faktor sosial, budaya, dan ekonomi. Meskipun pendidikan tinggi tidak diragukan lagi memberikan keuntungan tertentu, sejauh mana gelar akademik dipersepsikan sebagai proksi yang andal untuk kemampuan intelektual tetap menjadi subjek perdebatan dan penelitian yang sedang berlangsung (Ghaffarzadegan et al., 2014; Sewell, 1971). Mungkin bagi sebagian orang yang memiliki persepsi bahwa kalau memiliki gelar akademik tinggi seperti Profesor maka mereka akan di anggap sebagai seseorang yang memiliki intelektulitas yang tinggi.
Persepsi ini yang menimbulkan usaha apa saja untuk mereka mendapatkan gelar akademik itu meskipun menempuh cara-cara yang kurang etis, ditambah lagi di Indonesia untuk menjadi seorang profesor hanya di butuhkan hitung-hitungan kuantitatif bukan eksistensi dampak dan pengakuan publik yang nyata, serta keterukuran peran akademik di masyarakat.